MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
MUSLIMAH WAHDAH PUSAT
TUTUP

Dialog Ketahanan Keluarga Muktamar V Soroti Tantangan Seksualitas Generasi Muda

Muslimahwahdah.or.id - Jakarta, Salah satu sesi yang menarik disajikan dalam Muktamar V yaitu Dialog Ketahanan Keluarga. Selain membahas tentang rekomendasi organisasi ke depannya, peserta Muktamar juga berdialog bagaimana tantangan seksualitas yang dihadapi keluarga di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial.

Dialog ini menghadirkan seorang psikometri yakni Agung Sugiarti, S.Pd., M.Psi. Kak Sinyo sapaan akrabnya membagi pembahasan seksualitas dalam tiga aspek yang berbeda yakni orientasi seksual, tindakan seksual, dan identitas seksual, Kamis (20/8/2026)

Menurutnya, ketiga aspek tersebut penting karena untuk menghadap gay, lesbian dan LGBT tidak boleh dipandang secara sederhana.

Kak Sinyo juga menekankan pentingnya membekali keluarga dengan pemahaman ilmu pengetahuan sekaligus nilai agama, mengingat generasi saat ini semakin mudah memperoleh informasi dari berbagai sumber.

“Dalam keluarga kita akan menghadapi anak-anak gen z dan milenial sehingga mereka dapat membaca informasi dari ilmu pengetahuan makanya harus disandingkan dengan agama,” ujarnya.

Makanya pembahasan Kak Sinyo, tidak hanya dari segi ilmu pengetahuan, tetapi juga dari perspektif Islam. Secara perspektif Islam melihat persoalan seksual melalui bisikan hati, keinginan, niat, dan tindakan. Ia mengaitkannya dengan prinsip Islam bahwa mendekati zina merupakan hal yang dilarang.

Menurutnya, setiap individu yang terjangkit persoalan ini memiliki akar perbedaan sehingga penanganannya juga berbeda dan tidak dapat disamaratakan.

Dialog semakin seru karena adanya sesi sharing dari peserta yang sempat menangangi beberapa kasus seksualitas dan pengobatannya berupa ruqyah dan hijrah.

Kak Sinyo menanggapi pendekatan pengobatan dapat dilakukan selama sesuai dengan syariat Islam maupun memiliki dasar dalam pengetahuan.

“Dibolehkan memakai cara apapun untuk mengobati, sesuai syariat Islam. Misalnya ruqyah. Kedua masuk akal, misalnya hipnoterapi itu bisa karena ada dalam dunia pengetahuan,” katanya.

Sesi dialog selanjutnya, Kak Sinyo melihat tantangan perlindungan anak di dunia pesantren. Ia menilai pesantren bukan merupakan penyebab utama terjadinya perilaku seksual menyimpang.

Menurutnya, penguatan sistem dan tata kelola lembaga pendidikan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Ia mendorong adanya aturan yang lebih jelas terkait pengelolaan ruang dan pengawasan santri.

“Sistemnya diperbaiki, akreditasi. Pondok pesantren bikin aturan yang memiliki akreditasi bisa dimulai dari Wahdah Islamiyah. Aturan kamar harus ada sekat, cctv,” katanya menjawab pertanyaan dari peserta muslimah.

0 Komentar

Belum ada pesan

Tinggalkan Pesan