Muslimahwahdah.or.id - Soppeng, Mencintai Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membacanya. Kecintaan itu perlu diwujudkan dengan mempelajari, memahami, menghayati, mengamalkan hingga mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Pesan tersebut menjadi inti pembahasan dalam Seminar Al-Qur’an dan Tasyakuran DIROSA Angkatan VII Tahun 2026 di Kabupaten Soppeng.
Melalui materi “Bersama Al-Qur’an dalam Harmoni Cinta dan Perjuangan”, peserta diajak menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi sebagai petunjuk dan cahaya kehidupan. Kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan melahirkan perubahan dalam diri, keluarga hingga masyarakat.
“Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan penuh berkah di dunia dan akhirat,” ungkap Ustadzah dr. Hj. Marlina Since, S.Ked, saat menyampaikan materi di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, tanda kecintaan kepada Al-Qur’an dapat dilihat dari kesungguhan seseorang untuk rutin membaca dan mempelajarinya, memahami makna dan pesannya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kecintaan tersebut juga ditandai dengan rasa nyaman dan rindu ketika bersama Al-Qur’an. “Mempelajari Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an,” jelasnya.
Menurutnya, cinta kepada Al-Qur’an juga tidak berhenti pada diri sendiri. Seseorang yang mencintai Al-Qur’an diharapkan turut mengajak orang lain untuk mengenal dan mencintainya serta mengambil bagian dalam menyebarkan kebaikan.
“Mari lanjutkan perjuangan menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Al-Qur’an melalui cinta dan amal nyata,” ajaknya.
Pesan tersebut disampaikan oleh sosok yang juga menjalani berbagai peran dalam kehidupan. Ustadzah Marlina merupakan ibu dari enam anak. Ia juga merupakan dokter umum yang bertugas di IGD RSUD Latemmamala Kabupaten Soppeng, serta memiliki klinik dan pondok pesantren.
Di tengah berbagai kesibukannya, ia mengajak peserta untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Ia juga mengingatkan bahwa menjauh dari Al-Qur’an dapat berdampak pada kehidupan manusia, mulai dari lemahnya iman dan keringnya ruhiyah hingga rusaknya akhlak dan hilangnya arah perjuangan.
Dalam materi tersebut, Rasulullah ﷺ juga dihadirkan sebagai teladan utama dalam hidup bersama Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ menghafal, mengajarkan, mengamalkan dan menyampaikan wahyu, sekaligus membina para sahabat dengan Al-Qur’an.
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq turut menjadi gambaran bagaimana kecintaan kepada Al-Qur’an mampu menghidupkan hati dan menguatkan iman.
Ustadzah Marlina juga mengajak peserta menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam lingkup yang lebih luas. Melalui pembinaan dan tarbiyah Islamiyah, kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan dapat membentuk pribadi mukminah, keluarga Qur’ani, masyarakat Qur’ani hingga negeri yang penuh keberkahan.
Sementara itu, Seminar Al-Qur’an dan Tasyakuran DIROSA Angkatan VII Tahun 2026 digelar di Aula Gedung Serbaguna Lapatau, Kabupaten Soppeng, Ahad (20/9/2026). Kegiatan tahunan tersebut diselenggarakan oleh Unit Khidmatul Qur’an Muslimah DPD Wahdah Islamiyah Soppeng sebagai bentuk syukur sekaligus apresiasi atas perjuangan peserta menyelesaikan pembelajaran Al-Qur’an melalui metode Pendidikan Al-Qur’an Orang Dewasa (DIROSA).
Sebanyak 211 peserta mengikuti tasyakuran tersebut. Mereka berasal dari berbagai rentang usia, mulai dari anak sekolah hingga lanjut usia.
Kegiatan dihadiri dan dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Soppeng, Hj. Suarni Suwardi. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi perjuangan peserta yang telah menyelesaikan pembelajaran DIROSA.
Menurutnya, belajar Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan dan keistiqamahan, terlebih bagi mereka yang harus membagi waktu dengan keluarga, pekerjaan dan berbagai tanggung jawab lainnya. “Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar tasyakuran DIROSA tidak dimaknai sebagai akhir dari perjalanan belajar Al-Qur’an.
“Jadikan wisuda ini bukan sebagai akhir dari perjalanan, tetapi sebagai awal dari persahabatan yang lebih dekat dengan Al-Qur’an,” pesannya.
Kegiatan tersebut pun menjadi momentum untuk menguatkan kembali semangat peserta agar terus membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, DIROSA bukanlah garis akhir. Kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi pintu untuk perjalanan yang lebih panjang: mencintai, memahami, mengamalkan, mengajarkan dan mengajak lebih banyak orang untuk bersama Al-Qur’an.
0 Komentar
Belum ada pesan